Warga Miskin Minum Air Hujan Selama 2 Tahun


Khasan (86) dan Sani (75), warga miskin di lingkungan Rt 02/04, Kelurahan Serua Indah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, hidup serba kekurangan. Bahkan, untuk minum sehari-hari, pasangan renta ini harus menunggu hujan turun. Selama dua tahun, pria ini minum dengan air hujan.

Selain tanpa air, Khasan dan istrinya juga hidup tanpa menggunakan listrik. Setiap malam, Khasan hidup dalam kegelapan. Kehidupan serba sulit itu, sudah dirasakannya sejak dua tahun lalu.

"Saya tidak punya sumur pompa, jadi kalau minum harus tunggu hujan turun. Sisanya saya simpan untuk esok harinya," ujar Khasan prihatin di rumahnya, Senin (4/7/2011).

Di rumah itu, Khasan tinggal sudah empat tahun. Rumah itu dibelinya dengan harga Rp 22 juta, tanpa surat-surat rumah. Dari pemilik rumah, Khasan hanya diberikan kwitansi jual-beli rumah saja.

Setiap harinya, pria tua ini bekerja sebagai penjual mainan anak-anak. Dengan penghasilan Rp 10 ribu, Khasan harus bertahan hidup dan mengobati istrinya yang tengah sakit dan lumpuh. "Dulu pernah ada warga sekitar yang memberikan bantuan listrik, tapi sekarang sudah diputus. Tidak tahu kenapa," tambah Khasan didampingi istrinya.

Khasan tidur hanya beralaskan karpet tanpa adanya perabot tumah tangga. Ruang dapur yang semestinya digunakan untuk memasak, dipakainya untuk MCK dan berlantaikan tanah. Kendati begitu, Khasan dan istri tampak tegar menghadapi hidup.

Melihat kondisi ini, Mardan, Ketua Rt 02/04, Kelurahan Serua Indah mengaku, seluruh warga tampak sangat prihatin dan coba menawarkan bantuan. Seperti memberi saluran listrik gratis dan pengadaan pompa air kepada Khasan.

"Warga sekitar sempat membantu memberikan aliran listrik dan pompa air. Entah kenapa, bantuan itu di hentikan oleh anak pak Khasan," terangnya.

Hal inilah yang membuat warga semakin prihatin. Padahal, Khasan layak mendapat uluran tangan warga guna meringankan beban hidupnya. "Saya juga tidak habis pikir dengan anak Khasan yang begitu tega melihat orangtuanya hidup serba kekurangan," tambahnya prihatin.